Sabtu, 10 Desember 2011

Pahlawan Sejati

Fakultas Pertanian di Institut Pertanian Bogor bisa dibilang lokasi paling strategis di antara fakultas lainnya. Ditambah lagi ada media center yang dikelola oleh BEM A yang berfungsi sebagai pusat informasi mengenai kegiatan akedemik, pembukaan beasiswa, kegiatan kampus bahkan informasi yang bersifat komersil. Selain itu, semua fakultas yang mempunyai kegiatan ekspo dan atau seminar serta perlombaan sering memasang stand di media center dan di depan rk.Pinus. Ditambah lagi mahasiswa dari fakultas lain sering mengadakan pertemuan / rapat kecil dan mengerjakan tugas di depan GKA. Saya sebagai mahasiswa agronomi dan hortikutura yang menjadi bagian dari keluarga fakultas pertanian cukup bangga dengan keadaan yang demikian karena menjadi fakutas yang selalu ramai dengan aktivitas mahasiswa. Namun tahu kah kalian? Sebagian organisasi atau mahasiswa yang melakukan kegiatan di media center , GKA dan pinus sering meninggalkan sampah.

Sekedar ingin bercerita saja, saat itu saya ada kuliah pada hari sabtu, sebelum ke ruang seminar saya beristirahat sejenak sambil duduk di depan pinus. Awalnya saya ingin melihat taman di depan rk.pinus, namun yang saya temui justru sampah, mulai dari box nasi, plastik dan botol berserakan di area pinus. Dalam hal ini, saya tidak sepenuhnya menyalahkan mereka yang sering memakai media center dan pinus, karena di daerah faperta sendiri kotak sampah sulit ditemukan. Padahal kita tahu bahwa di beberapa tempat yang menyediakan kotak sampah saja terkadang masih ada yang membuang sampah sembarangan, apalagi di tempat-tempat yang tidak menyediakan kotak sampah.

Hal lain yang membuat saya penasaran adalah kemanakah kotak sampah yang dibuat oleh mahasiswa pertanian IPB yang dijadikan sebagai tugas Masa Perkenalan Kampus? Apakah kotak sampah yang dibuat itu hanya sebagai simbol dari masa perkenalan kampus saja? Entahlah!

Saya pun sadar menjaga kebersihan adalah tanggung jawab kita semua. Tapi akan lebih baik jika organisasi mahasiswa yang mempunyai peranan penting dalam kebaikan fakultasnya juga ikut andil dalam masalah kebersihan lingkungan. Retorika indah yang kalian ucapkan tak akan pernah lebih indah dari ‘embekan’ seekor kambing jika tidak diterapkan. Mulailah sesuatu itu dari hal yang kecil, bukankah kita lebih diutamakan untuk melihat keadaan di lingkungan yang lebih dekat dengan kita terlebih dahulu? Saya akan lebih menghargai itu, dari pada kalian melakukan aksi di depan para petinggi negara yang tidak bisa dirasakan hasil nyatanya. Besar kecilnya kontribusi atau wujud kerja kalian bukan dari berapa banyak gagasan dan kata-kata yang dilontarkan untuk suatu perubahan, tetapi dari tindakan nyata yang telah kalian lakukan.

Kamis, 03 November 2011

Pesta Pemira

akhirnya *kapan mulainya koq udah akhir hehe

Wah, suasana pemira udah kerasa banget mulai dari pamflet, poster, bahkan spanduk telah di pasang di sekitar kampus. Ada juga calon presma yang memberikan pembatas buku yang tujuannya sama yakni mempromosikan diri dan menarik massa untuk memilih mereka. Sedikit mengomentari teman yg berpendapat "lebih baik uang yang mereka digunakan untuk membantu orang-orang yang kurang beruntung dari pada foya-foya menghamburkan uang untuk membuat poster, spanduk, dan sebagainya".

Saran atau usulan tersebut benar dan gue setuju banget, tapi kalo mereka tidak memasang poster atau pamflet di sekitar kampus bagaimana mahasiswa tahu tentang pengalaman organisasi, prestasi, visi, dan misi calon presma atau ketua BEM masing-masing fakultas. Diskusi dan debat publik memang diadakan, tapi ga semua mahasiswa itu mau dateng. Pernah gue liat di dua fakultas yang ngadain debat calon BEM gitu dan yang dateng cuma beberapa orang, itu pun mayoritas pake almamater, jangan-jangan itu tim sukses mereka ^^. Diskusi publik aja ga dateng, apalagi mencari informasi secara mandiri. Gue perhatiin lumayan banyak mahasiswa yang nyempetin baca poster2 para calon tersebut. Coba deh bayangin kalo pas pra pemira semua papan pengumuman sepi dan kita baru liat wajah calon-calon saat pencoblosan terus ga tau visi dan misi mereka kan ga lucu banget. Mungkin yang perlu di garis bawahi, jangan terlalu berlebihan aja kampanyenya*inget prinsip ekonomi lah. Percuma lo dapet matkul ekum kalo ga diterapin.

Gue ga begitu mengerti sih seluk-beluk dunia politik di kampus. Jujur, gue ga ngerasain perubahan di kampus dari presma sebelumnya atau gue nya aja kali yang ga nyadar atau ga punya perasaan sampe ga bisa ngerasain hhe *apasih ga penting--"
Tapi gue yakin pasti ada pengorbanan yang telah mereka lakukan selama masa ke pemimpinan mereka. Ntah itu waktu, pikiran, bahkan akademik mereka, dan ga semua orang bisa ngelakuinnya dengan ikhlas.

Mungkin sekarang kita sudah muak terhadap hal-hal yang berbau politik. Selalu mengumbar janji, tapi tidak semua ditepati. Pengen melakukan ini itu kalo nanti kepilih, terus mereka ngucapinnya dengan yakin banget, tapi lama-lama saat udah kepilih udah ga inget lagi buat ngelakuinnya *kayaknya penyakitnya para politikus itu amnesia deh. Kita juga sudah sulit untuk percaya lagi kepada pemimpin karena terlalu banyak dikecewakan. Hingga kita menyamakan perilaku pemimpin sekarang atau sebelumya dengan calon pemimpin selanjutnya. Akhirnya sebagian kita memutuskan untuk golput. "gue milih atau ga, sama aja! Gue bakal tetep kayak gini alias ga ngaruh".

Gimana jadinya ya kalo banyak yang golput? Dulu pengen banget demokrasi, tapi setelah sekarang kita hidup berdemokrasi pada ga mau milih? Udah ga milih ntar protes ini itu?
Seolah-olah kita tu ga pernah puas dan selalu mencari yang namanya kesempurnaan. Padahal kita ga bakal menemukan hal itu, kalo kita mencari yang mendekati sempurna mungkin ada kali ya. Termasuk dalam diri calon presma atau ketua BEM Fakultas kita masing2.

Maaf kalo ada yang tersinggung dengan tulisan gue, gue cuma mau ngajak temen-temen buat bepikir positif aja dan yuk kita gunain hak pilih. Terus kalo emang spanduk, pamflet, poster dan sbg nya itu foya2 ayo lah kita kasih saran/tips kampanye atau promosi yang baik itu gimana? Mari Kita ubah budaya kita yang bisanya protes dan mengkritik, tetapi ga pernah memberi solusi.

Senin, 17 Oktober 2011

Lirik Lagu Taylor Swift – Crazier

I’ve never gone with the wind, just let it flow
Let it take me where it wants to go
Til you open the door, there’s so much more
I’ve never seen it before
I was trying to fly but I couldn’t find my wings
But you came along and you changed everything

You lift my feet off the ground
You spin me around
You make me crazier crazier
Feels like I’m falling and I am lost in your eyes
You make me crazier crazier crazier

I watched from a distance as you made life your own
Every sky was your own kind of blue
And I wanted to know how that would feel
And you made it so real
You showed me something that I couldn’t see
You opened my eyes and you made me believe.

You lift my feet off the ground
You spin me around
You make me crazier crazier
Feels like I’m falling and I am lost in your eyes
You make me crazier crazier crazier oh

Baby you showed me what livin’ is for
I don’t wanna hide anymore

You lift my feet off the ground
You spin me around
You make me crazier crazier
Feels like I’m falling and I’m lost in your eyes
You make me crazier crazier crazier crazier crazier

Sabtu, 15 Oktober 2011

Unek-unek

Asik sekarang udah semester tiga (telat banget bilangnya..hhe). Itu artinya gue mulai praktikum lapang. Kebetulan jurusan gue ada interdep pengantar ilmu tanah (MSL).
Langsung aja ke intinya, gue rada sebel sama aspraknya. Sebut ajalah Nyonya C. Si nyonya C ini kerjanya ngegabut aja kalo lagi ngasprak. Pernah waktu itu gue nanya tentang cara ngambil agregat tanah yang bener tu gimana, abisnya kelompok gue itu gagal mulu. And you know what???? Si nyonya C dengan santainya ngejawab : "ga tau, gue lupa. Tahun kmren gw cm liat doang sih". Ga cuma itu, hari ini kita tu harusnya buat grafik laju sama komulatif infiltrasi. Nyonya C tadi cuma ngasih instruksi buat ngerjain komulatif instruksi aja, eh pas kita balik ke kelas gitu kelompok laen pada buat laju sama komulatif instruksi.Otomatis kita heran dong, terus gue nanya lagi, "Kak, kok mereka buat dua grafik?", Si nyonya C cm bilang "Udah gapapa, ntar kalian liat aja sama temen kelompok laen dan kumpulin abis UTS." Sebel ada, Jengkel ada, Marah juga ada, pokoknya semuanya ada deh, lengkap kayak WaSerbA.
Iiihhh asprak kok gitu yaa. Asprak emang ga diragukan lagi nilainya. Gue yakin IPK 3 ke atas adalah salah satu syarat buat ngedaftar jadi asprak. Tapi yang gue butuhin sebagai praktikkan itu bukan nilainya tapi ilmunya.Kayaknya pinter buat diri sendiri ga cukup deh sebagai modal jadi asprak. Kenapa calon asprak itu ga dikasih training ato semacam magang dulu biar mereka pas ngasprak beneran udah tahu apa yang bakal mereka lakuin saat mendampingi praktikkan. Jangan sampe jadi asprak cuma buat memperpanjang cv hingga ga ngejalani kewajiban sebagai asprak.