Lagi-lagi demo. Itu lah negeriku. Kebijakan baru maka demo menggebu. Namun ketikan kebijakan telah ditetapkan, semua kembali membisu. Ntah itu lah yang hanya bisa dilakukan mereka yang mengatasnamakan pembela rakyat miskin. Aku berpikir lama kelamaan demo itu bak ritual yang mesti diadakan setiap ada kebijakan baru oleh sang pengusa negeri.
Aku bukanlah aktivis yang memiliki nasionalitas tinggi. Terkadang aku pun tak mengerti peliknya masalah di negeriku ini. Namun, bukan berarti aku tak peduli. Aku mungkin tak segagah kalian yang berani menyeruakkan pendapat dan menampakkan emosi secara frontal di depan para petinggi disana. Meski kadang aku yakin , mereka tak akan menggubris apa yang kau sampaikan.
Sebaiknya kita juga menerapkan sikap itu kepada para pemimpin negeri kita. Semoga kebijakn mereka itu adalah pilihan terbaik dalam menyelamatkan perekonomian kita. Sepengetahuan saya, bahan mentah minyak dunia memang lagi meroket tinggi yakni naik 100dollar per barrel, belum lagi biaya pengolahan crude menjadi bensin. Jika harga mentahnya 100 dollar per barrel ( 1 barrel= 160 liter) berarti harga 1 liternya Rp5.600. Dan itu harga belum diolah, harusnya harga bensin Rp11.000,00 biar pabrik untung. Jadi pemerintah menaikkan bbm menjadi Rp6000,00 cukup logis. Karena jika tidak dinaikkan biaya subsidi akan membengkak.
Saya tak sepenuhnya pro akan semua kebijakan pemerintah. Jika diasumsikan setiap pembelian BBM maka kita akan mendapat subsidi sebesar Rp1500/liter. Tentunya yang mengisi bensin adalah masyarakat gol. menegah ke atas mulai dari motor sampai mobil mewah. Lalu apakah rakyat kecil mendapat subsidi tersebut? Tentu tidak. Saya hanya ingin menyarankan bahwa sebaiknya semakin besar pendapatan seseorang maka subsidi yang ia dapat terhadap pembelian bbm harusnya lebih sedkit. Pemerintah harusnya jangan menyamaratakan pemberian subsidi. Selain itu pemberian BLT sebesar Rp150.000,00 terlalu kecil, karena kenaikkan bbm berdampak pada kenaikan barang-barang lain terutama sembako. Dana yang dipakai DPR untuk study banding ke luar negeri ada baiknya di alokasikan saja ke BLT. Toh selama ini tak ada progress dari DPR. Lebih baik uangnya untuk rakyat miskin makan dari pada membiayai study banding yang lebih mengarah ke jalan-jalan dan liburan bagi DPR.



