Sabtu, 24 Maret 2012

Pemerintah Salah atau Rakyat yang Tak Paham?


Lagi-lagi demo. Itu lah negeriku. Kebijakan baru maka demo menggebu. Namun ketikan kebijakan telah ditetapkan, semua kembali membisu. Ntah itu lah yang hanya bisa dilakukan mereka yang mengatasnamakan pembela rakyat miskin. Aku berpikir lama kelamaan demo itu bak ritual yang mesti diadakan setiap ada kebijakan baru oleh sang pengusa negeri.

Aku bukanlah aktivis yang memiliki nasionalitas tinggi. Terkadang aku pun tak mengerti peliknya masalah di negeriku ini. Namun, bukan berarti aku tak peduli. Aku mungkin tak segagah kalian yang berani menyeruakkan pendapat dan menampakkan emosi secara frontal di depan para petinggi disana. Meski kadang aku yakin , mereka tak akan menggubris apa yang kau sampaikan.

Namun teman bukankah agama kita menganjurkan; "Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangaka adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain da janganlah sebagian dari kamu menggunjing sebagian yang lain. Sukakah salah seorang dari kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya.” (QS Al Hujurat : 12)."

Sebaiknya kita juga menerapkan sikap itu kepada para pemimpin negeri kita. Semoga kebijakn mereka itu adalah pilihan terbaik dalam menyelamatkan perekonomian kita. Sepengetahuan saya, bahan mentah minyak dunia memang lagi meroket tinggi yakni naik 100dollar per barrel, belum lagi biaya pengolahan crude menjadi bensin. Jika harga mentahnya 100 dollar per barrel ( 1 barrel= 160 liter) berarti harga 1 liternya Rp5.600. Dan itu harga belum diolah, harusnya harga bensin Rp11.000,00 biar pabrik untung. Jadi pemerintah menaikkan bbm menjadi Rp6000,00 cukup logis. Karena jika tidak dinaikkan biaya subsidi akan membengkak.

Saya tak sepenuhnya pro akan semua kebijakan pemerintah. Jika diasumsikan setiap pembelian BBM maka kita akan mendapat subsidi sebesar Rp1500/liter. Tentunya yang mengisi bensin adalah masyarakat gol. menegah ke atas mulai dari motor sampai mobil mewah. Lalu apakah rakyat kecil mendapat subsidi tersebut? Tentu tidak. Saya hanya ingin menyarankan bahwa sebaiknya semakin besar pendapatan seseorang maka subsidi yang ia dapat terhadap pembelian bbm harusnya lebih sedkit. Pemerintah harusnya jangan menyamaratakan pemberian subsidi. Selain itu pemberian BLT sebesar Rp150.000,00 terlalu kecil, karena kenaikkan bbm berdampak pada kenaikan barang-barang lain terutama sembako. Dana yang dipakai DPR untuk study banding ke luar negeri ada baiknya di alokasikan saja ke BLT. Toh selama ini tak ada progress dari DPR. Lebih baik uangnya untuk rakyat miskin makan dari pada membiayai study banding yang lebih mengarah ke jalan-jalan dan liburan bagi DPR.

Cintailah produk lokal ^_^





Mana yang lebih menarik? Jika kau disuruh membeli diantara keduanya, mana yang akan kau beli?

Sebelum saya masuk ke pertanian, saya tentu akan memilih yang no. 2 karena tampilannya lebih menarik. Tapi kini saya mulai mencintai produk lokal, yah memang "rumput tetangga selalu lebih bagus". Terkadang kita lebih bangga kepada hal-hal yang berbau impor, karena kualitasnya lebih baik. Tapi tak selamanya impor itu selalu lebih baik dari produk lokal.

Berikut adalah berita yang saya kutip ;

Dinas Kesehatan kota Cilegon, Banten menemukan Jeruk, buah impor asal China yang positif mengandung formalin. Jeruk tersebut di dapatkan dari salah satu supermarket di kota Cilegon.

Kepastian adanyan zat formalin yang berbahaya bagi kesehatan itu diketahui setelah dinas kesehatan melakukan pengujian kulit dan isi jeruk di laboratoriun kesehatan, Serang, Banten.

Edi Susanto, Store Manager Toko Buah ‘Total Buah Segar’ di Jalan Danau Sunter Utara, Tanjung Priok, tak menampik kalau buah-buah impor yang beredar di Tanah Air banyak mengandung bahan pengawet jenis formalin. “Biasanya buah yang rentan formalin itu buah impor dari USA (Amerika Serikat) dan China seperti apel, anggur, jeruk, dan pear,” katanya saat ditemui Pos Kota, Sabtu (28/1).

Untuk melihat apakah buah itu mengandung formalin atau tidak, bisa dilihat dari ciri pada buah. “Biasanya buah yang mengandung formalin itu warnanya keputihan dan sedikit licin,” jelasnya. Penampilan buah jauh lebih menarik.

Diberitakan sebelumnya, Kepala Pusat Karantina Tumbuhan Badan Karantina Kementerian Pertanian, Arifin Tasrif mengeluarkan pernyataan mengejutkan. “ Buah impor mengandung formalin. Indonesia menjadi keranjang sampah, “ katanya.

Menurut Arifin, buah impor yang tidak layak konsumsi akibat kandungan bahan kimia berbahaya membanjiri pasar dalam negeri. Sekitar 800 ribu ton buah yang tidak laku di negara lain dengan leluasa masuk ke Indonesia melalui jalur resmi maupun jalur tidak resmi. Bahan kimia berbahaya seperti formalin dan zat pewarna tersebut sengaja dicampurkan ke buah. Tujuannya agar buah menjadi lebih awet dan tetap terlihat segar meski sudah dipanen setengah tahun lalu.

Endapan logam dan kandungan bahan kimia yang dicampurkan pada buah impor tersebut sangat berbahaya bagi yang mengkonsumsinya. Karena konsumsi dalam jangka panjang, bisa mengakibatkan berbagai gangguan kesehatan. Seperti kelainan autis pada anak dan perilaku hiperaktif.

sumber ;http://www.necturajus.com


Titip Rindu Buat Ayah - Ebiet g ade


Di matamu masih tersimpan selaksa peristiwa
Benturan dan hempasan terpahat di keningmu
Kau nampak tua dan lelah, keringat mengucur deras
namun kau tetap tabah hm...

Meski nafasmu kadang tersengal
memikul beban yang makin sarat
kau tetap bertahan
Engkau telah mengerti hitam dan merah jalan ini

Keriput tulang pipimu gambaran perjuangan
Bahumu yang dulu kekar, legam terbakar matahari
kini kurus dan terbungkuk hm...
Namun semangat tak pernah pudar

meski langkahmu kadang gemetar
kau tetap setia
Ayah, dalam hening sepi kurindu
untuk menuai padi milik kita

Tapi kerinduan tinggal hanya kerinduan
Anakmu sekarang banyak menanggung beban
Engkau telah mengerti hitam dan merah jalan ini
Keriput tulang pipimu gambaran perjuangan

Bahumu yang dulu kekar, legam terbakar matahari
kini kurus dan terbungkuk hm...
Namun semangat tak pernah pudar
meski langkahmu kadang gemetar

kau tetap setia

Jumat, 23 Maret 2012

Apa yang telah kugoreskan dibuku kehidupanku?


"Disaat jasadmu meninggalkan dunia ini, karyamu akan tetap hidup". Kalimat itu sering kudengar. Tapi apakah kalimat itu berlaku dalam kehidupanku?

Ntah mengapa hari ini aku merasa seperti manusia yang tak bermanfaat. Apakah itu artinya aku tidak baik? bukankah "Sebaik-baiknya manusia itu adalah manusia yang bermanfaat"

Apakah aku harus hidup di zaman terjajah yang masih bergelut dengan senjata agar aku bisa bermanfaat.Aku tak minta menjadi Soekarno yang memperjuangkan Indonesia. Apalagi meminta menjadi sahabat nabi yang turut membela Islam. Cukuplah bagiku menjadi bermanfaat bagi sekitarku dulu.

Apa sebenarnya yang telah ku tulis di dunia ini. Apakah tulisan yang mampu membuat orang senang atau bahkan membuat Sang Penciptaku murka. Semuanya ada ditanganku, tangan kecil ini diberi tinta olehNya agar aku bisa mengukir tulisan di setiap kertas yang kosong. Aku tak tahu berapa lembar kertas kosong yang Tuhan kasihkan kepadaku. Dan aku berharap diantara kertas itu aku banyak menulis kebaikan.